Gotong royong cermin kerukunan hidup bermasyarakat

Proses Pemasangan keramik pada dinding tempat imam sholat berada oleh pak Trubus Wiyono. (Dokumen desa.id Fhoto By. Kang Mamat)

Bogatama.desa.id |14|10|2018| Warisan pendahulu (leluhur) bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa didunia adalah budaya bergotong royong. Gotong royong merupakan ciri khas bangsa Indonesia yang sampai dengan saat ini masih di pertahankan terutama dalam masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan, karena kehidupan didesa merupakan kehidupan yang masih mengutamakan tenggang rasa yang sangat tinggi.

Berbeda dengan kehidupan yang kita temukan diwilayah perkotaan, masyarakat perkotaan mayoritas sudah terbiasa dengan hidup sendiri – sendiri, meskipun masih dapat kita temukan budaya gotong royong ini dalam skala kecil. Kebiasaan hidup bergotong royong ini dilingkungan masyarakat Kampung Bogatama merupakan budaya yang selalu dijaga kelestariannya, baik bergotong royong membantu tetangga tatkala membangun rumah terlebih gotong royong untuk kemaslahatan lingkungan.

Salah satu warga Mat Jaenudin sedang memotong keramik menggunakan alat pemotong. (Dokumen desa.id Fhoto By. Kang Mamat)

Bukti nyata kebiasaan bergotong royong ini dapat kita lihat dilingkungan suku 001 Kampung Bogatama, dalam rangka menciptakan kerukunan hidup dalam bermasyarakat kegiatan gotong royong tidak hanya dilakukan pada siang hari, tetapi juga dilakukan pada malam hari. Saat ini masyarakat lingkungan suku 001 Rt.001 dan Rt.002 sedang dalam rangka memperbaiki sarana ibadah yaitu memperbaiki Musholla (tempat sholat). Dalam menyelesaikan pekerjaan rehap dinding Musholla warga yang tinggal dilingkungan ini bekerja keras baik siang maupun malam hari, meskipun tanpa disuruh mereka hadir dan ikut berpartisipasi dalam pekerjaan ini dengan suka rela bukan hanya tenaga tetapi pikiran dan bahkan biaya.

Masyarakat bahu menbahu dalam proses pemasangan keramik dinding Musholla. (Dokumen desa.id Fhoto By. Kang Mamat)

Pekerjaan perbaikan Musholla ini adalah upaya menciptakan suasana nyaman dalam beribadah, karena selama ini disaat sholat berjamaah didalam musholla suhu udara terasa hangat, sehingga pada saat beribadah menjadi kurang nyaman dan selalu berkeringat meskipun sudah dipasang kipas angin, sealin itu juga dinding musholla yang sudah berumur cukup tua sangat membutuhkan perbaikan. Kegiatan memperbaiki musholla ini sudah berjalan selama 6 hari, selama 6 hari berjalan baik siang maupun malam masyarakat dilingkungan ini hadir dan bersama – sama menyelesaikan pekerjaan tanpa upah bahkan masih berkorban.

Masyarakat yang lain turut menyediakan adonan semen dan pasir untuk pemasangan keramik (Dokumen desa.id Fhoto By. Kang Mamat)

Kegiatan gotong royong perbaikan dinding Musholla ini mencerminkan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat sangat dibutuhkan kerja sama dan saling bantu membantu, dengan bergotong royong apapun pekerjaan akan terasa ringan, selain itu pula kegiatan bergotong royong mencerminkan kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat, karena semua warga mendapatkan hak dan kewajiban yang sama dalam lingkungan.

Peran serta kaum perempuan lingkungan suku 001 dalam kegiatan perbaikan dinding musholla dengan menyediakan makanan. (Dokumen desa.id Fhoto By. Kang Mamat)

Sebagai wujud kebersamaan dalam perbaikan dinding musholla bukan hanya kaum pria saja yang bekerja, tetapi kaum perempuan juga tidak mau ketinggalan, dengan menempatkan pada posisinya kaum ibu membuat makanan mulai dari makanan ringan sampai membuat masakan untuk para kaum pria yang ikut hadir bergotong royong. Hal ini yang menjadikan bukti bahwa Dengan kebiasaan hidup bergotong royong maka kerukunan antar warga masyarakat dapat tercipta. (Kang Mamat/BGT)

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan